Ilmu Pengetahuan dan Peradaban Islam

Ust. Anang Rikza MasyhadiDalam sejarah Islam, Dinasti Umayyah adalah pelopor bagi pengembangan ilmu pengetahuan, yang dilanjutkan kemudian oleh Dinasti Abbasiah. Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah ialah orang pertama yang menyadari pentingnya transformasi ilmu-ilmu kedokteran dan kimia ke dalam bahasa Arab. Maka dipanggilah sekelompok orang Yunani yang tinggal di Mesir, dan kepada mereka diminta untuk mengalih-bahasakan buku-buku tentang pembuatan bahan kimia berbahasa Yunani dan Koptik ke dalam bahasa Arab, sehingga akhirnya mereka dapat membuat emas melalui proses kimiawi buatan.

Pada masa Abdul Malik ibn Marwan, seluruh perkantoran dan urusan kenegaraan diwajibkan menggunakan bahasa Arab, setelah sebelumnya, di Irak memakai bahasa Persia, dan di Mesir serta Syâm (Suriah) menggunakan bahasa Yunani. Masjid merupakan institusi budaya yang berfungsi untuk mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, terutama pengetahuan yang berhubungan dengan Al-Quran, Hadis, fiqh dan bahasa. Masjid yang terkenal saat itu ialah Masjid Bashrah.

Pada masa Dinasti Abbasiah dilakukan upaya penerjemahan secara besar-besaran dari bahasa Yunani ke bahasa Arab, khususnya pada masa Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun. Bahkan, Al-Ma’mun mengirim utusan khusus ke Kostantinopel (sekarang Turki) agar dapat membawa catatan dan manuskrip-manuskrip terbaik dalam bidang filsafat, teknik, musik dan kedokteran. Maka tidak mengherankan jika pada masa Al-Ma’mun lahir banyak ilmuwan eksakta, semisal Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi yang merupakan orang pertama yang belajar dan mengembangkan Aljabar secara sistematis, dan menjadikannya cabang ilmu tersendiri yang terpisah dari ilmu matematika.

Pengaruh gerakan penerjemahan dan transformasi ilmu pengetahuan pada masa Al-Ma’mun adalah bukti bahwa saat itu banyak dari kaum muslimin yang secara serius dan penuh dedikasi tinggi mempelajari ilmu pengetahuan. Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi adalah salah seorang diantara mereka yang mendalami bidang kedokteran, filsafat dan matematika.

Transformasi ilmu pengetahuan itu mendapatkan momentumnya karena pada saat yang bersamaan Dinasti Abbasiah melalui khalifah Harun Ar-Rasyid membangun institusi pendidikan guna mendukung pengembangan ilmu pengetahuan, seperti sekolah Baghdad, Balakh, Nisabur, Bashrah, Mosul dan lain sebagainya. Itupun didukung dengan institusi perpustakaan yang memadai dengan koleksi buku dalam jumlah yang sangat banyak untuk ukuran saat itu. “Baitul Hikmah”, misalnya, adalah sebuah universitas terbesar yang didirikan oleh Harun Ar-Rasyid yang dilengkapi dengan observatorium dan laboratorium untuk menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku. Sepeninggal Harun, Baitul Hikmah dikembangkan serta diperkuat oleh Al-Ma’mun.

 Itulah sekilas wajah Peradaban Islam yang pernah berkembang dengan sangat mengesankan yang dirintis oleh para ulama terdahulu. Nilai-nilai peradaban Islam itu kemudian diserap dengan sangat baik oleh bangsa Eropa dan Barat, yang diakui oleh mereka sendiri telah mengilhami Eropa-Barat untuk maju. Jadi, sesungguhnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Eropa-Barat saat ini tidak bisa dilepaskan dari peran Peradaban Islam. Ibnu Sina yang pertama kali merumuskan teori-teori kedokteran, di Eropa-Barat dikenal dengan sebutan Avicena dan hingga kini masih menjadi rujukan penting dalam dunia kedokteran modern.

Saat ini dunia Islam justru mengalami anakronisme, yaitu keterputusan sejarah dengan masa-masa sebelumnya, terutama dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan. Saat ini, justru bagian dunia Islam-lah yang paling lemah etosnya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, terlihat dari indikasi lemahnya institusi dan sistem pendidikan yang ada. Sektor pendidikan termarjinalkan dan tidak mendapat tempat di hati setiap penguasa yang berakibat pada rendahnya kualitas sumber daya manusia.

Tidak mengherankan jika pada masa Al-Ma’mun lahir banyak ilmuwan eksakta, semisal Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi yang merupakan orang pertama yang belajar dan mengembangkan Aljabar secara sistematis, dan menjadikannya cabang ilmu tersendiri yang terpisah dari ilmu matematika.

Padahal banyak riwayat hadis Nabi Muhammad SAW meyebutkan tentang keutamaan orang yang menuntut ilmu pengetahuan. “Orang yang menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan buatkan jalan baginya menuju surga.Sungguh, malaikat akan membentangkan sayapnya sebagai bentuk keridhaannya kepada para penuntut ilmu. Sungguh, apa yang ada di langit dan bumi, bahkan karang di dasar laut, mereka semua akan memohonkan ampun untuk orang-orang yang berilmu.” (HR. Abu Darda & Ahmad)

Bahkan, pernah Rasulullah SAW membandingkan antara ahli ilmu dengan ahli ibadah. “Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang-orang di bawahku (para sahabat) (HR. Tirmidzi)”, demikian sabda Rasul.

Oleh karenanya, penting bagi umat Islam kini, terutama para penguasanya untuk kembali bercermin pada sejarah tersebut. Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah, Abdul Malik bin Marwan, Harun Ar-Rasyid dan Al-Ma’mun, meskipun banyak cacat dan kekurangan dalam hal performa politiknya, namun mereka adalah sosok pemimpin yang sadar pada pengembangan ilmu pengetahuan; kebijakan-kebijakan politiknya mendukung dan ikut menyuburkan pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan.

Dunia Islam kini benar-benar membutuhkan pemimpin seperti mereka untuk mengembalikan lagi kejayaan Peradaban Islam seperti dahulu. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dengan beberapa derajat.” (Qs. Al-Mujadalah [58]:11)