Indahnya Pesantren; KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag.

Salah satu faktor keberhasilan para santri dalam proses belajarnya adalah adanya perhatian dari para ustadz. Semakin besar perhatian Ustadz kepada santrinya, semakin besar pula kesempatan santri untuk berhasil.

Pondok ini selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada para santri dan ustadznya. Dengan sistem asrama seperti ini, sangat memungkinkan bagi para guru untuk mengawasi para santri secara langsung selama dua puluh empat jam.

Sehingga perhatian para guru terhadap anak didiknya tidak hanya tercurah saat kegiatan belajar mengajar di kelas saja, namun dalam totalitas kehidupan pondok selama 24 jam atau sehari penuh, mulai dari mereka bangun pagi hingga tidur dan bangun lagi.

Sejak berdirinya, pondok ini dalam mendidik santrinya telah membuat ramuan atau bumbu sehingga hasilnya bisa dilihat dari alumni-alumninya. Salah satu ramuan yang dibuat pondok adalah ramuan kebersamaan. Santri, guru dan Kiai, semuanya berada di dalam satu komplek pondok.

Kebersamaan ini, kebersamaan Kiai dan guru dengan santrinya dalam satu tempat waktu adalah ciri pondok pesantren. Para guru dan Kiai stand by di pondok siang dan malam. Mereka siap sedia selama dua puluh empat jam bersama santri. Sehingga bisa selalu mengarahkan, mengajari, meng­awasi, membimbing, mengevaluasi, menasehati dan memotivasi mereka. Mereka bisa belajar bersama dalam satu komplek pondok ini, bekerja bersama, bercengkerama dan bersenda gurau bersama, saling membantu dan saling mendoakan. Inilah ciri pondok pesantren.

Sering bertemu, hal inilah yang menjadikan hubungan batin antara guru dan santri terjalin begitu eratnya. Guru bisa menjadi guru, teman, kakak atau orang tua bagi santrinya. Guru mendoakan santri dan santri mendoakan gurunya. Bila suatu hari seorang guru tidak mengajar, maka dia akan sangat merindukan santri-santrinya. Tapi, hubungan itu tidak akan terjalin erat apabila guru dan santrinya jarang sekali bertemu. Sulit sekali untuk mempererat hubungan batin mereka jika keduanya hanya bertemu di kelas yang hanya beberapa jam saja.

Hasil yang jauh berbeda antara mereka yang menerima pendidikan di asrama dengan mereka yang tidak terdidik di asrama. Tidak banyak waktu kosong yang terbuang bagi mereka yang tinggal di asrama. Waktu kosong itu akan diisi dengan berbagai kegiatan yang mendidik.

Berbeda halnya dengan mereka yang tidak tinggal di asrama. Ketika bel tanda berakhirnya pelajaran berdentang, seketika itu pula jam pendidikan ditutup. Selebihnya adalah kekosong­an, yang entah apa yang mereka lakukan untuk mengisi kekosongan tersebut.

Dalam 24 jam dan kehidupan di asrama, guru bisa menjadi tauladan langsung bagi para santri. Santri pun bisa langsung mencontoh bagaimana gurunya berperilaku, berbicara, berolahraga, berpakaian hingga bagaimana cara bekerja. Namun, sedikit sekali yang bisa dicontoh murid dari gurunya jika kedua­nya hidup bersama hanya sepertiga hari.

Gontor dari awal rintisannya oleh Trimurti telah disiapkan sebagai tempat untuk menempa guru yang berkualitas. Guru yang mampu mengajar ilmu apa saja dan juga mampu menjadi seorang pemimpin. Pesantren dengan totalitas kehidupannya selama 24 jam orientasinya adalah untuk pendidikan semata. Pesantren tidak hanya mendidik intelektual semata, tetapi pesantren juga mendidik mental dan spiritual serta kehidupan bagi seluruh santrinya.

risalah yang diemban oleh guru bukan hanya mengajar para santri, mereka juga dituntut untuk bisa mendidik mereka. maka, dalam mendidik perlu sentuhan-sentuhan, perlu ada­nya transformasi nilai, perlu juga adaya keteladanan serta perlunya kedekatan antara guru dan santrinya.

Mendidik murid selama 24 jam memang tidak mudah. Guru benar-benar diuji untuk bisa membagi waktu seadil mungkin. Mereka dituntut untuk bisa membagi waktunya untuk mengajar, belajar, kuliah, membimbing santri dan juga membantu pondok. Namun, disinilah letak keindahan dari perjuang­an, pengorbanan serta keikhlasan.

Beginilah cara pondok mendidik kita. Pondok memberi kita media untuk memperkuat tali silaturrahim antara mudarris wa tilmidz, mempererat ikatan batin antara guru dan murid. Suasana seperti ini sudah dimulai sejak awal berdirinya pondok ini. Semoga budaya ini bisa terus abadi hingga akhir­ zaman.

"....perhatian para guru terhadap anak didiknya tidak hanya tercurah saat kegiatan belajar mengajar di kelas saja, namun dalam totalitas kehidupan pondok selama 24 jam
atau sehari penuh,..."