Tazakka Ajak Pesantren-Pesantren Lakukan Improvisasi Wakaf

TAZAKKA - Improvisasi penerapan wakaf dan zakat di Indonesia perlu memiliki konsep dan strategi yang baik. Untuk itulah diadakan Pelatihan Manajemen Zakat dan Wakaf dengan tema: Strategi Fundraising Dalam Rangka Mewujudkan Kemandirian Pesantren, di Pondok Modern Tazakka (6/11).

Hal ini dikarenakan pengelolaan zakat dan wakaf di banyak lembaga dirasa belum optimal. Padahal, potensi ekonomi umat cukup besar, sehingga dibutuhkan SDM yang handal untuk bisa mengelolanya dengan baik.

"Maka, Lazis Tazakka menginisiasi pelatihan ini untuk mengajak lembaga ZIS maupun pesantren meningkatkan kemampuan pengelolaan dana zakat dan wakaf umat, agar hasilnya lebih maksimal" ujar Kamal Fakhri, S.H.I, Wakil Direktur Lazis Tazakka.

Kamal mengatakan bahwa banyaknya problem yang menjadi kendala pengelolaan zakat dan wakaf, utamanya wakaf, maka perlu dibahas secara komprehensif dalam pelatihan tersebut. "Misalnya saja tentang tukar guling tanah wakaf, improvisasi penerapan wakaf dan strategi fundrising" ujarnya.

Dr. Mustafa Dasuki Kasbah, pakar wakaf dari Pusat Studi Ekonomi Islam Shaleh Kamel, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, sebagai pembicara utama menyampaikan bahwa improvisasi dalam hal wakaf sangatlah dibutuhkan. "Hukum fikih wakaf kebanyakan bersifat ijtihadiyyah qiyasiyyah. Maka, sangat memungkinkan untuk membuat inovasi dan improvisasi dalam penerapannya" jelasnya.

Beliau juga membuka wawasan pemikiran para peserta sembari menegaskan bahwa wakaf bukan hanya berbentuk harta tidak bergerak sebagaimana kebanyakan dipahami orang. Akan tetapi, macamnya sangat banyak, sifatnya dinamis dan wakaf juga dapat berupa hal yang temporal seperti wakaf uang, wakaf manfaat atau wakaf profesi serta ragam wakaf lainnya.

Masih menurut Dr. Dasuki, Universitas Al-Azhar adalah contoh nyata dan bisa dikatakan contoh terbaik dalam hal pemanfaatan dana wakaf. "Biaya pembelajaran mahasiswa di Al-Azhar, 80% lebih didanai dari wakaf. Bahkan, ulama besar seperti Imam Al-Ghazali serta ulama lainnya alumni Al-Azhar belajar dengan dana wakaf, termasuk Pimpinan Pondok Tazakka ini alumni Al-Azhar jadi belajar dan tumbuh secara keilmuan melalui pemanfaatan dana wakaf" jelasnya.

Dasuki optimis apabila Al-Azhar dapat mengoptimalkan dana wakaf untuk pendidikan, tidak mustahil hal itu dilakukan di pesantren ataupun di lembaga pendidikan lainnya di Indonesia. Menurutnya, lewat sinergi dan kolaborasi antar pesantren, maka kelak Indonesia dapat menjadi kiblat kemajuan peradaban Islam yang digerakkan oleh dana wakaf yang dikelola secara optimal.

Hal senada disampaikan oleh KH.  Anang Rikza Masyhadi, MA bahwa di Indonesia telah terjadi kemubadziran potensi wakaf umat. "Selama ini mubadzir dipahami secara sangat sederhana, padahal mubadzir bisa pula dalam pengertian mengabaikan potensi ekonomi umat yang besar ini karena tidak dikelola dengan baik, termasuk mubadzir jika ada SDM muslim baik namun umat Islam tidak mau memanfaatkannya" jelasnya.

Sedangkan Dr. Fakhrurozi dari Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat menyampaikan materi tentang Regulasi dan Istibdal atau Tukar Guling Harta Wakaf. Materi ini disampaikan karena banyak lembaga tidak berkembang hanya karena masalah regulasi.

"Memang regulasi bisa berubah. Bahkan, beberapa hal terkait improvisasi fikih wakaf belum ada regulasinya. Akan tetapi, kalau fikih memperbolehkan namun regulasinya belum ada, silahkan jalankan saja" terangnya.

Adapun dalam hal Istibdal atau tukar guling tanah wakaf,  menurutnya karena itu banyak terjadi akhir-akhir ini. Dr. Fakhrurrozi juga membahas masalah tersebut lewat buku yang  ditulisnya yang dibagikan kepada seluruh peserta.

Menurut Kiai Anang, apa yang dilakukan Tazakka dalam mengelola wakaf memiliki dua kata kunci, yaitu amanah dan cita-cita. "Amanah itu pasti, namun cita-cita tidak kalah penting. Tanpa amanah, dana sebesar apapun bisa jadi akan habis tapi hasilnya nihil. Begitupun sebaliknya, tanpa cita-cita, dana yang diterima sebanyak apapun tidak akan bisa optimal difungsikan karena tidak ada visi kedepan, bisa jadi malah akan diributkan penggunaannya" jelasnya.

Beberapa langkah inovatif dan improvisasi dalam pengelolaan dan penghimpunan dana wakaf telah dilakukan oleh Tazakka. "Kami kembangkan apa yang disampaikan Dr. Mustafa menjadi semacam Product Knowledge atau ragam wakaf yang dikembangkan oleh Tazakka. "Kita juga kembangkan wakaf lewat auto debet, saham wakaf, wakaf dengan EDC dan tabung wakaf" tambahnya.

Sedangkan sesi terakhir, menghadirkan kolaborasi seorang pengusaha dan konsultan bisnis, yaitu H. Teguh Suhardi dan H. Toto Sukasmanto. Materi yang dikaji adalah Membangun Bisnis Kreatif Pesantren.

Menurut H. Teguh, pesantren ibarat miniatur masyarakat dimana mereka juga membutuhkan pasar untuk memenuhi kebutuhannya. Maka, pesantren harus bisa memaksimalkan peluang ekonomi tersebut. "Hampir semua produk kebutuhan manusia, 80% diproduksi oleh non muslim. Akan tetapi, 90% konsumennya adalah muslim," jelas Teguh.

"Maka, ini adalah peluang sekaligus tantangan, khususnya bagi pesantren yang di Indonesia jumlahnya lebih dari 27 ribu dengan sekitar 4 juta santri" imbuhnya.

Untuk itu, lanjut Teguh, harus ada perubahan yang dimulai dari pesantren. "Jangan sampai pesantren terlambat melakukan perubahan dan mengantisipasi tantangan ke depan, saya optimis pesantren bisa menjadi basis gerakan wakaf dan ekonomi kreatif umat"  tambah pengusaha yang sukses mengelola beberapa rumah sakit.

Sedangkan Toto Sukasmanto memberikan ilustrasi tentang uniknya pasar beberapa tahun belakangan. "Pasar memang unik, dan selalu dinamis dan terus berubah. Maka, kita harus bisa membaca pasar dan harus survive dengan perubahan tersebut" ungkap mantan konsultan marketing di Indofood.

Pelatihan diikuti oleh kurang lebih 60an peserta dari berbagai lembaga ZIS maupun pesantren yang tergabung dalam jaringan pesantren alumni Gontor (FPA), jaringan pesantren NU (FSKM) maupun jaringan pesantren Muhammadiyah (ITMAM).

Edi Buana, S.Pd.I selalu Koordinator Wakaf Tazakka memyatakan bahwa ke depan, pelatihan semacam ini akan ruti  diadakan khususnya bagi lembaga atau pesantren lain yang belum mengikuti. @Alam