Nabi Musa dan Dakwahnya Kepada Penguasa Yang Dzalim

  • 9 Desember 2019
  • 2,358 views
Nabi Musa dan Dakwahnya Kepada Penguasa Yang Dzalim

*Ziarah ke Makam Nabi Musa AS:*abi Musa AS termasuk Nabi dan Rasul yang paling banyak dikisahkan dalam Al-Quran. Musuh utamanya adalah Firaun: penguasa yang sangat dzalim.

Nabi Musa AS dijuluki sebagai “KaliimulLaah“, yaitu orang yang diajak berbicara oleh Allah saat menerima wahyu di Gunung Sinai.

وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكۡلِیمࣰا (النساء 164

Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung (tanpa perantara) (Qs. An-Nisa [4]: 164)

Beberapa mukjizatnya banyak disebutkan dalam Al-Quran, antara lain: memukulkan tongkatnya ke batu lalu memancarlah air menjadi 12 pancuran untuk 12 kabilah; memukulkan tongkatnya ke tanah lalu menjadi ular besar yang memakan ular-ular kecil milik tukang sihirnya Firaun; dan memukulkan tongkatnya ke Laut Merah sehingga laut terbelah dan Musa beserta pengikutnya selamat dari kejaran Firaun dan bala tentaranya.

Nabi Musa AS mengusulkan pada Allah, agar saudaranya, Harun AS diangkat menjadi nabi dan rasul untuk membantunya. Karena, Harun dinilai lebih fasih dalam berbicara daripada Musa.

Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku.”

Dia (Allah) berfirman, “Kami akan menguatkan engkau (membantumu) dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak akan dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamu yang akan menang.” (Qs. Al-Qashash [28]: 34-35)

Saat masih bayi, Nabi Musa AS dihanyutkan dengan keranjang kecil oleh ibunya ke sungai Nil setelah ibunya mendapatkan ilham dari Allah. Karena ada perintah dari Firaun bahwa setiap bayi lelaki yang lahir harus dibunuh. Hal itu berdasarkan informasi dari para dukun binaan Firaun yang mengabarkan bahwa akan ada bayi lelaki yang kelak akan menjadi penentangnya.

Atas kehendak Allah, bayi Musa hanyut hingga sampai ke pemandian istana kerajaan Firaun. Maka, diambillah bayi Musa oleh isteri Firaun yang bernama Siti Asiyah dan diasuhnya. Awalnya Firaun menolak, tapi setelah dipahamkan oleh isterinya hatinya melunak. Siti Asiyah lalu kebingungan tentang siapa yang bakal menyusuinya? Maka, dipanggillah para wanita di negeri itu yang siap menyusuinya. Namun, tak satupun yang dimaui oleh bayi Musa. Hingga akhirnya datanglah ibunda Musa, dan Musa pun mau menyusunya. Demikianlah, cara Allah mengembalikan Musa kepada ibunya.

Setelah dewasa, Nabi Musa AS melawan Firaun. Dan Firaun pun murka. Lalu, Nabi Musa AS dan para pengikutnya dikejar hingga ke ujung Laut Merah. Di tengah kebingungan Nabi Musa AS dan pengikutnya, Allah memerintahkan agar memukulkan tongkatnya ke laut, maka terbelahlah laut itu sehingga mereka bisa lewat. Saat Musa dan pengikutnya telah sampai di ujung, maka Allah kembali perintahkan memukulkan tongkatnya ke laut sehingga lautnya menyatu kembali. Dan Firaun beserta bala tentaranya tenggelam.(Baca: Qs. Al-Qashash [28]: 7-43)

Perhatikanlah sketsa kisah ini. Nabi Musa dalam ketidakberdayaannya karena masih bayi, selamat dihanyutkan dalam air sungai Nil. Sedangkan Firaun dipuncak kehebatan dan kekuasaannya dengan segala perangkat pengamanannya, ternyata hanyut di air. Hal itu menunjukkan kekuasaan Allah. Dialah yang Berkuasa Penuh untuk menenggelamkan dan menyelamatkan.

Inti dakwah Nabi Musa, selain tentu saja tauhid, adalah meluruskan kedzaliman dan kesewenangan penguasa yaitu Firaun. Maka, musuh yang dihadapinya paling berat adalah Raja Firaun yang lalim.

Dan Musa berkata: ‘Wahai Fir‘aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam, aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku‘.” (Qs. Al-A’raf [7]: 104-105)

Kemudian setelah mereka, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir‘aun dan para pemuka kaumnya, dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Ternyata mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (Qs. Yunus [10]: 75)

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain keturunan dari kaumnya dalam keadaan takut bahwa Fir‘aun dan para pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Dan sungguh, Fir‘aun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di bumi, dan benar-benar termasuk orang yang melampaui batas.” (Qs. Yunus [10]: 84)

Nabi Musa AS terkenal dengan ketegasannya. Sehingga banyak orang segan dengan sosoknya. Nabi Musa AS mengusulkan agar kakaknya, Harun AS diangkat menjadi nabi dan rasul, karena ia lebih fasih dalam berbicara. Dan Allah pun mengabulkan usulan itu.

Dalam sebuah riwayat Hadis, Nabi memberitakan bahwa konon Nabi Musa saat didatangi malaikat maut yang hendak mencabut nyawanya, ia malah memukul mata malaikat itu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أُرْسِلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَام فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ فَقَالَ أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ قَالَ ارْجِعْ إِلَيْهِ فَقُلْ لَهُ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِمَا غَطَّتْ يَدُهُ بِكُلِّ شَعَرَةٍ سَنَةٌ قَالَ أَيْ رَبِّ ثُمَّ مَاذَا قَالَ ثُمَّ الْمَوْتُ قَالَ فَالْآنَ قَالَ فَسَأَلَ اللَّهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنْ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ تَحْتَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah RA berkata: “Suatu hari malaikat maut diutus kepada Musa AS. Ketika menemuinya, (Nabi Musa AS) memukul matanya. Maka malaikat maut kembali kepada Rabbnya dan berkata: “Engkau mengutusku kepada hamba yang tidak menginginkan mati”. Maka Allah berfirman: “Kembalilah dan katakan kepadanya agar dia meletakkan tangannya di atas punggung seekor lembu jantan. Setiap bulu lembu yang ditutupi oleh tangannya berarti umurnya satu tahun baginya”. Nabi Musa AS bertanya: “Wahai Rabb, setelah itu apa?. Allah berfirman:: “Kematian”. Maka Nabi Musa AS berkata: “Jika begitu sekarang saja waktunya (kematian itu)”. Kemudian Nabi Musa AS memohon Allah agar mendekatkannya dengan tanah yang suci (Al-Muqaddas) dalam jarak sejauh lemparan batu”. Abu Hurairah RA berkata; Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya aku kesana, pasti akan aku tunjukkan kepada kalian keberadaan kuburnya yang ada di pinggir jalan di bawah tumpukan pasir merah“. (HR. Muslim)

Nabi Musa AS adalah menantu dari Nabi Syuaib, karena salah satu putri Nabi Syuaib menikah dengan Nabi Musa AS.

Demikianlah sekelumit kisah Nabi Musa AS. Semoga kita bisa belajar mengambil hikmah dari metode dakwahnya Nabi Musa terhadap penguasa yang absolut dan dzalim.

@anangrikza
Yordania, 8 Desember 2019

Konten Terkait