Kaderisasi by Design: Ikhtiar Membangun Sistem Kepemimpinan Pesantren

👁️ 18 kali dibaca

            Dalam banyak organisasi, pergantian pemimpin sering menjadi masa yang rawan. Tidak jarang muncul ketegangan, tarik-menarik kepentingan, bahkan kemunduran lembaga. Masa depan sering kali bergantung pada siapa yang tampil saat itu, bukan pada sistem yang disiapkan. Pondok Modern Tazakka memilih jalan berbeda. Di pesantren ini, masa depan tidak dibiarkan berjalan secara kebetulan, tetapi dirancang dengan sadar melalui sebuah visi jangka panjang yang disebut Kaderisasi by Design.

            Visi ini berangkat dari kesadaran sederhana namun mendasar: kepemimpinan bukan sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia adalah proses panjang yang harus disiapkan. Karena itu, pengembangan sumber daya manusia di Tazakka tidak dilakukan secara tambal sulam, tetapi dibangun sebagai sistem yang terencana. Kaderisasi dipandang sebagai investasi penting, bukan sekadar urusan administratif.

            Pimpinan Pondok Modern Tazakka, K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D., sering menyampaikan satu prinsip kunci, “Kita harus berani membeli masa depan dengan harga hari ini.” Prinsip ini tercermin dalam keberanian pesantren mengirim kader-kader terbaiknya menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi ternama, baik di Timur Tengah maupun di Eropa dan Amerika. Langkah ini tentu membutuhkan biaya besar, tetapi dipandang sebagai harga yang wajar demi menyiapkan pemimpin masa depan yang berwawasan luas dan tetap berakar pada nilai pesantren.

            Investasi tersebut tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga nilai. Harapannya, para kader kelak mampu berdialog dengan dunia global tanpa kehilangan jati diri. Modernitas tidak diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat pesantren.

            Hal menarik lainnya adalah cara Tazakka memandang kaderisasi secara inklusif. Kader memang dibedakan antara Kader Bani, yaitu keturunan pendiri, dan Kader Bina, yakni kader non-keturunan. Namun, pembagian ini tidak menjadi sekat. Keduanya memulai dari titik yang sama dan dinilai dengan standar yang sama pula.

            Yang menjadi ukuran bukanlah garis keturunan, melainkan kualitas pengabdian. Setiap kader dinilai berdasarkan empat prinsip utama yang dikenal dengan 4 TAS: integritas, loyalitas, totalitas, dan kapasitas. Dengan pendekatan ini, kepemimpinan dipahami sebagai amanah yang harus diperjuangkan, bukan hak istimewa yang otomatis dimiliki. Tazakka berupaya membangun sistem kepemimpinan yang adil dan berbasis kapasitas.

            Proses pembentukan kader dijalankan secara bertahap dan berkelanjutan. Melalui skema 5P—pengarahan, pelatihan, penugasan, pembiasaan, dan pengawalan— kader tidak hanya belajar teori, tetapi juga ditempa melalui pengalaman nyata. Mereka diberi tanggung jawab mengelola unit usaha, memimpin bagian tertentu, hingga mengorganisasi kegiatan berskala besar.

            Yang menjadi ciri khas Tazakka adalah penekanan pada proses ma‘iyyah, yakni membersamai pimpinan secara langsung dalam waktu yang panjang. Para kader inti tidak hanya menerima arahan, tetapi hidup dan bekerja dekat dengan pimpinan pesantren. Mereka mendampingi pimpinan setidaknya selama lima tahun, menyaksikan langsung bagaimana keputusan diambil, masalah dihadapi, dan nilai pesantren dijalankan dalam praktik sehari-hari.

            Melalui proses ini, nilai dan cara berpikir tidak hanya diajarkan, tetapi diteladankan. Kader belajar bukan hanya apa yang harus dilakukan, tetapi bagaimana bersikap, mengambil keputusan, dan menjaga arah perjuangan. Semua proses berlangsung dalam pengawalan yang ketat, sehingga kesalahan menjadi ruang belajar, bukan sumber kehancuran.

            Pada akhirnya, Kaderisasi by Design bukan sekadar upaya menyiapkan pengganti pemimpin. Ia adalah ikhtiar menjaga keberlanjutan nilai pesantren. Pemimpin boleh berganti dan zaman terus berubah, tetapi nilai harus tetap hidup. Dengan sistem kaderisasi yang matang, Pondok Modern Tazakka membangun ketahanan lembaga yang tidak bergantung pada satu figur, melainkan pada sistem yang kuat dan kader-kader yang disiapkan secara sadar untuk masa depan.

Penulis: Al-Ustadz H. Hakim As Shidqi, M.Pd.I.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *