Mengapa Pesantren Menjadi Pilar Peradaban Indonesia Maju?

👁️ 28 kali dibaca

Jika kita tarik sejarah bangsa ini, pesantren dengan kiai dan santrinya memiliki keterkaitan dalam membawa Indonesia menjadi negara yang merdeka dan lepas dari penjajahan. Gerakan kiai dan santri menjadi garda terdepan dalam menghadapi penjajah adalah sikap anak bangsa yang anti penjajah dan penjajahan. Bahkan, jejak historis perjuangan santri lebih dahulu ada sebelum berdirinya Tentara Nasional Indonesia.

Maka, tak salah jika pesantren dan negara ini punya hubungan historis yang kuat. Jika dahulu pesantren membela dan menopang negara, maka tak salah jika sekarang negara hadir mendukung pesantren untuk terus mencerahkan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Apalagi pesantren memiliki jiwa kemandirian yang total, baik dalam pendanaan, kelembagaan, sistem pendidikan, manajemen, maupun pengelolaan SDM.

Dari gambaran di atas, dapat disimpulkan bahwa pesantren adalah pilar peradaban menuju Indonesia maju, Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur. Karena peradaban tidak hanya lahir dari pembangunan fisik semata, tapi juga pembangunan manusia yang berkarakter, berakhlak mulia, berwawasan luas, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang profetik.

Pesantren adalah kawah candradimuka yang mampu mendidik, mengajar, membentuk, dan mencetak manusia yang memiliki integritas, loyalitas, totalitas, dan kapasitas. Apalagi, saat ini bangsa kita sedang berada di zaman krisis moral, krisis identitas, dan krisis kepemimpinan. Maka, pesantren hadir sebagai moral force, kekuatan moral yang mengakar dan memberikan arah peradaban bagi bangsa.

Pesantren juga terus berupaya untuk melakukan revolusi mental. Pesantren mengajarkan santri-santrinya tentang cara berpikir (mindset), cara bersikap (attitude), dan cara bertindak (action) yang baik dan benar. Santri diajarkan dan ditanamkan sikap jujur, mandiri, ikhlas, disiplin, dan bertanggung jawab. Bahkan, moto utamanya adalah berbudi tinggi, dengan tujuan melahirkan santri berkarakter dan berakhlak mulia.

Pesantren adalah ‘centre of excellence’, pusat keunggulan, tempat berkumpulnya orang-orang kuat, unggul, dan hebat. Di pesantren para santri dididik menjadi orang yang shaleh dan muslih, orang yang baik dan mampu mengajak pada kebaikan. Shaleh pikirannya, shaleh sikapnya, shaleh ibadahnya, shaleh tindakannya, dan shaleh sosialnya.

Pesantren juga menjadi inkubator kepemimpinan masa depan. Karena kita yakin bahwa peradaban hanya akan maju jika dipimpin oleh orang yang tepat dan berkarakter. Di pesantren para santri diajarkan tentang pendidikan kepemimpinan. Mereka diajarkan disiplin, dilatih memimpin dalam berbagai kegiatan, organisasi, dan kepanitiaan. Dengan demikian, mereka terlatih untuk memimpin, mengambil inisiatif, berkreasi dan berinovasi, bertanggungjawab, berkomunikasi dan berkolaborasi, serta mampu menggabungkan beragam ide dan potensi.

Mereka benar-benar dilatih untuk menjadi calon-calon pemimpin masa depan. Melalui sistem asrama dan organisasi santri, mereka dilatih dan dikawal untuk memimpin mulai dari hal-hal kecil. Sehingga pada saatnya nanti, mereka siap memimpin umat dan bangsa. Apalagi mereka berbaur dengan santri dari beragam suku, budaya, adat, dan latar belakang dalam persahabatan yang tulus, maka akan tertanam rasa toleransi dan jiwa moderat dengan kesadaran iman dan rasa cinta tanah air.

Undang-undang Pesantren Nomor 18 Tahun 2019 adalah tonggak sejarah penting bagi pesantren. UU ini adalah legalitas dan pengakuan negara terhadap pesantren untuk menjadi bagian tak terpisahkan dalam sistem pendidikan nasional. Maka, tak salah jika generasi muda bangsa ini belajar di pesantren untuk menjadi bagian penting penopang Indonesia maju masa depan.

Mari teguhkan niat dan langkah kita untuk belajar dan mengenyam pendidikan di pesantren. Mari kita bersama membangun peradaban bangsa Indonesia yang maju dan bermartabat menuju Indonesia Emas 2045. InsyaAllah, dari pesantren akan lahir generasi khaira ummah yang unggul, generasi yang siap memimpin bangsa, memajukan negeri ini, dan membawa cahaya peradaban ke seluruh dunia. From pesantren to the world.
Penulis: Al-Ustadz Alam Mahardika, M.H.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *