Peran dan Kontribusi Pesantren dalam Kemerdekaan dan Pembangunan Bangsa

👁️ 24 kali dibaca

Oleh: K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D.

Santri dan pesantren merupakan bagian penting dari masyarakat Indonesia. Peran dan kontribusinya kepada bangsa dan negara tak dapat dinafikan begitu saja. Mari kita simak bagaimana santri dan pesantren mengambil peran-peran strategis dan berkontribusi besar kepada nusa dan bangsa ini.

Pada masa penjajahan, pesantren menjadi salah satu pusat pergerakan dalam melawan kolonialisme. Para ulama dan santri seringkali memimpin perlawanan di berbagai daerah. Salah satu momen paling bersejarah adalah ketika K.H. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang kemudian memicu lahirnya pertempuran 10 November di Surabaya pada tahun 1945.

Itulah hari yang kita peringati hingga sekarang sebagai Hari Pahlawan Nasional. Sedangkan keluarnya Revolusi Jihad pada tanggal 22 Oktober itu kemudian ditetapkan menjadi Hari Santri Nasional.

Dari sejarah di atas, jelas bahwa Resolusi Jihad lahir dari fatwa kiai pesantren. Diserukannya Resolusi Jihad bertujuan untuk membangkitkan semangat rakyat Indonesia, terutama di kalangan kiai dan santri, dalam mempertahankan kemerdekaan yang hendak direbut kembali oleh para penjajah.

Para ulama pesantren memahami betul dan sangat mengimani firman Allah SWT berikut:

اِنْفِرُوْا خِفَافًا وَّثِقَالًا وَّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Berangkatlah kamu (untuk berperang), baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (Qs. At-Taubah [9]: 41)

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الصّٰدِقُوْنَ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Qs. Al-Hujurat [49]: 15)

Jadi, secara historis peran ulama dan santri tidak bisa dinafikan atau sekedar dipandang sebelah mata. Peran mereka telah tercatat dengan tinta emas sejak zaman pergerakan kemerdekaan melawan penjajah. Peran itu harus terus berlanjut dalam mempersiapkan kemerdekaan melalui keterlibatan aktif di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) maupun Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam menjaga kemerdekaan republik, membangun fondasi negara Indonesia merdeka, hingga peran-peran mengisi kemerdekaan melalui keterlibatan langsung di pemerintahan dan parlemen.

Kaum santri ini lahir dan dididik dalam dunia pesantren yang merupakan sistem dan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia. Pesantren muncul dari satu kearifan lokal (local wisdom) di seluruh wilayah Indonesia yang telah eksis selama berabad-abad. Di antara peran penting pesantren adalah penjagaannya terhadap karakter moral bangsa serta dalam upaya mempersiapkan sumber daya insani bangsa sejak zaman pra kemerdekaan.

Banyak tokoh besar pejuang dan peletak dasar kemerdekaan (the founding fathers/mothers) lahir dari dunia pesantren, sebut saja K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Ahmad Dahlan, K.H. Wahid Hasyim, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, HOS Cokroaminoto, Haji Agus Salim, Muhammad Natsir, dan Buya Hamka, mereka semua adalah para ulama dari dunia pesantren.

Pada periode perjuangan fisik dapat disebut pejuang Republik yang berasal dari kalangan santri, seperti Jenderal Soedirman, Bung Tomo, K.H. Wahab Hasballoh, K.H. Zaenal Mustofa, dan K.H. As’ad Syamsul Arifin. Jauh sebelumnya kita kenal pahlawan yang sudah masyhur seperti Raden Mas Antawirya yang lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro, ada juga Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro,Tuanku Imam Bonjol, Cut Meutia, dan lainnya. Bahkan, Presiden pertama Republik Indonesia Ir. Soekarno juga pernah mengenyam pendidikan pesantren pada masa mudanya.

Jauh sebelum kemerdekaan (abad 17 hingga awal abad 19), kita juga menemukan banyak pujangga dan sastrawan sekaligus ulama besar yang dikenal dunia yang lahir dari rahim pesantren sebagai kaum santri. Tercatat nama-nama sekaliber Hamzah Fansuri, Nuruddin Raniri, Abdul Rauf Singkili, Yussuf Makassari, Abdul Samad Palimbani, Syaikh Khatib Al-Minangkabawi, Syaikh Nawawi Al-Bantani, Arsyad Banjari, dan lain-lainnya.

Mereka semua adalah founding fathers pembaruan Islam di Nusantara. Karya-karya besar mereka di bidang fikih, tafsir, hadis, dan tasawuf, serta kreasi intelektual mereka bukan hanya dalam skala domestik Nusantara, tetapi juga sampai diakui di dunia internasional.

Lalu bagaimana peran santri pasca kemerdekaan? Meskipun perjuangan fisik melawan penjajah telah berakhir, peran santri dan pesantren tidak lantas meredup. Karena watak santri dan pesantren adalah anti penjajah dan penjajahan. Justru mereka terus berkontribusi signifikan dalam pembangunan bangsa pasca kemerdekaan. Berikut beberapa peran penting mereka.

Pertama, di bidang pendidikan: Pesantren terus menjadi pusat pendidikan bagi masyarakat, terutama di daerah pedesaan. Mereka tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum. Kurikulum pesantren pun terus berkembang, menyesuaikan dengan tuntutan dan kebutuhan zaman.

Kedua, di bidang dakwah dan pembinaan masyarakat: Santri dan ulama pesantren secara aktif dan berkesinambungan berdakwah menyebarkan nilai-nilai ajaran agama dan moral, membina masyarakat agar menjadi lebih baik. Mereka juga sering menjadi rujukan dalam berbagai persoalan kehidupan.

Ketiga, di bidang politik: Banyak santri dan alumni pesantren yang terjun ke dunia politik. Mereka mengambil peran penting dalam merumuskan kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan rakyat. Mereka berperan mengawal etika politik berlandaskan agama, memperjuangkan kemaslahatan umat, menjaga keutuhan bangsa, serta memperkuat demokrasi yang jujur dan berkeadilan.

Keempat, di bidang ekonomi: Santri dan pesantren turut berkontribusi dalam pengembangan ekonomi. Banyak pesantren yang memiliki usaha produktif, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, dan kerajinan tangan. Banyak dalam riset empiris dibuktikan bahwa lingkungan dimana pesantren tumbuh kembang, maka perekonomian masyarakat di sekitarnya ikut tertopang dan bertumbuh.

Kelima, di bidang sosial budaya: Santri dan pesantren berperan penting dalam melestarikan budaya bangsa. Mereka aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti pengajian, majelis taklim, bakti sosial, dan kegiatan sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan lainnya.

Selain itu, masih banyak peran-peran lainnya yang masih terus dilakukan dunia pesantren hingga kini. Salah satu landasan para kiai dalam mendidik para santri di pesantren adalah sebagaimana firman Allah dalam surat At-Taubah ayat 122 berikut.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

“Dan tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Namun demikian, pesantren juga terus melakukan transformasi untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Sebagai contoh adalah dengan modernisasi sistem pendidikan dan pengajarannya yang memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum sekaligus. Sehingga tidak ada lagi dikotomi ilmu dalam pengajaran di pesantren.

Selain itu, para santri juga dibekali dengan kemampuan berbahasa asing, setidaknya bahasa Arab dan Inggris. Kedua bahasa itu di pesantren tidak saja digunakan untuk tujuan akademik dan keilmuan, namun juga untuk tujuan dakwah dan diplomasi global.

Dengan kemampuan bahasa Arab dan Inggris para santri memiliki kompetensi Internasional, sehingga ia tidak lagi canggung menjadi bagian dari global citizen atau masyarakat global. Selanjutnya, peran dan kontribusi santri dan pesantren tidak lagi bersifat lokal atau nasional, namun aktif berkontribusi positif bagi komunitas global.

Pesantren juga menjadi tulang punggung bagi bangsa dan negara dalam menangkal isu dan bahaya radikalisme ataupun terorisme, karena ajaran Islam yang dididikkan di pesantren adalah ajaran Islam yang washaty (moderat), berkemajuan, dan menebar rahmat bagi semesta.

Maka, sejatinya bangsa ini banyak berhutang budi pada dunia pesantren atas jasa, peran, dan kontribusinya dalam merebut dan mengisi kemerdekaan. Pada saat yang sama, bangsa ini juga berharap besar pada dunia pesantren yang masih akan terus mendidik generasi muda bangsa dan mencetak kader-kader calon pemimpin dan perekat umat masa depan.

Disampaikan pada khutbah Jum’at di Masjid Istiqlal Jakarta pada 25 Oktober 2024

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *