PESANTREN SEBAGAI SEKOLAH KEPEMIMPINAN

👁️ 16 kali dibaca

Oleh: Alam Mahardika, M.H.

Pada gelaran Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy tahun 2026, Tazakka mengambil tema: “Pendidikan Holistik Pesantren Menyiapkan Pemimpin Bangsa di Masa Depan”. Tema ini menegaskan bahwa pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menyiapkan santri-santrinya untuk menjadi pemimpin umat dan perekat umat di masa yang akan datang menuju terbentuknya khairu ummah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat ke 30 yang artinya: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Ayat ini menegaskan satu hal mendasar bahwa manusia diciptakan bukan sekadar untuk hidup, tetapi untuk memimpin atau menjadi pemimpin. Kepemimpinan itu diimplementasikan mulai dari memimpin dirinya sendiri, keluarganya, masyarakatnya, hingga kelak akan memimpin umat atau bangsanya.

Dari percakapan Allah dan malaikat pada ayat di atas, kepemimpinan yang dimaksud adalah kepemimpinan yang berlandaskan tauhid dan keimanan kepada Allah, kepemimpinan yang membawa ke arah kebaikan, keadilan, kebenaran, dan kemaslahatan umat, bukan kepemimpinan yang justru menimbulkan kerusakan dan kebinasaan.

Pertanyaannya adalah: di mana kepemimpinan semacam itu dibentuk dan diajarkan? Maka, jawabannya adalah di pesantren. Mengapa? Karena di pesantren sejak dahulu telah mengambil peran sentral tersebut yang kemudian melahirkan pemimpin-pemimpin umat dan bangsa. Karena kepemimpinan tidak cukup hanya diajarkan di ruang kelas saja, melainkan diajarkan, dididik, dan diasah melalui ekosistem lingkungan pendidikan yang kemudian membentuk manusia secara utuh. Salah satunya adalah lingkungan pesantren.

Di pesantren, apa yang dilihat oleh santri, didengar, dan dirasakan oleh para santri adalah bagian dari proses pendidikan. Pesantren juga memberikan pendidikan secara holistik, yaitu mengembangkan potensi santri dari sisi kognitif, afektif, dan psikomotorik secara komprehensif.

Pesantren juga mendahulukan pendidikan daripada pengajaran. Artinya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan yang mentransfer informasi, wawasan maupun ilmu pengetahuan semata. Lebih dari itu, pesantren membentuk peradaban kecil berupa miniatur kehidupan dengan totalitas kehidupan 24 jam sebagai representasi dari Catur Pusat Pendidikan yaitu rumah, sekolah, masyarakat, dan media.

Para santri dididik secara holistik, komprehensif, dan integratif dalam tiga dimensi sekaligus, yaitu: jasmani, akal, dan ruhani; psikomotorik, kognitif, dan afektif; mental, intelektual, dan spiritual. Maka, dari penjabaran di atas dapat dilihat dengan jelas bahwa pesantren bukan sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan atau transfer knowledge, tapi juga memberikan pendidikan berupa transfer of values atau transfer nilai-nilai.

Maka, sistim pendidikan di pesantren tidak hanya berorientasi pada nilai ujian, nilai akademik, atau bahkan ijazah semata. Tetapi sebagaimana konsep tashawwur yang diajarkan oleh Imam Al-Ghazali, pesantren mengajarkan pendidikan yang sejati, yaitu pendidikan yang bukan sekadar menanamkan informasi, melainkan membentuk cara pandang seseorang terhadap dirinya, terhadap sesama, terhadap lingkungan, dan terhadap Allah SWT.

Pesantren itu mencetak pemimpin dan membentuk manusia. Berbeda dengan sekolah di luar yang sekadar meluluskan siswanya dalam hitungan tahun ajaran. Karena pesantren membentuk manusia melalui proses panjang yang melibatkan fisik, otak, dan hati. Maka, ukuran prestasinya bukan hanya nilai akademik, tapi juga dari aspek mental, sikap, dan spiritualnya.

Di pesantren santri tidak hanya belajar tentang ilmu agama seperti ilmu Al-Quran, hadis, fikih, bahasa Arab, atau bahkan matematika, fisika, biologi, kimia atau juga bahasa Inggris di dalam ruang-ruang kelas. Tetapi, di pesantren para santri juga belajar hidup dan kehidupan di luar kelas, belajar hidup bermasyarakat dan berorganisasi, belajar memenej waktu dan mengatur dirinya sendiri, belajar berbagi dan empati dan belajar ilmu serta nilai-nilai kehidupan lainnya. Sehingga tanpa disadari, karakter kepemimpinan mulai terbentuk dalam diri setiap santri.

Dunia saat ini bergerak dengan cepat. Hal ini ditandai dengan perkembangan teknologi digital, munculnya kecerdasan buatan yang kemudian mengakibatkan perubahan sosial yang cepat. Maka, pesantren harus tetap menjaga keontetikan nilai-nilai dan ajaran serta falsafah kehidupan. Selain itu, pesantren juga harus adaptif terhadap perkembangan zaman. Untuk itu, pesantren harus memiliki visi jangka panjang sehingga mampu menjawab tantangan masa depan.

Termasuk dalam hal kepemimpinan, proses kaderisasi kepemimpinan bukan lagi sekedar slogan, tapi kaderisasi by design. Artinya, proses kaderisasi kepemimpinan dirancang secara sistematis, terukur, dan berkesinambungan agar setiap santri atau alumni pesantren ke depan benar-benar siap menjadi pemimpin di bidangnya masing-masing, sesuai dengan profesi yang digeluti.

Sebagai institusi strategis bangsa ini, pesantren telah membuktikan dirinya selama berabad-abad sebagai lembaga pendidikan yang mampu mendidik manusia secara utuh, jasmani yang sehat, akal yang cerdas, jiwa yang bersih, mental yang berkarakter, dan sikap yang beradab. Dari sanalah lahir pemimpin-pemimpin yang tidak hanya kuat secara intelektual, tapi juga kokoh secara moral dan spiritual.

Sejarah bangsa ini adalah saksi bahwa telah banyak ulama, pahlawan, negarawan, dan tokoh bangsa yang lahir dari rahim pesantren. Ini semua bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistim pendidikan pesantren yang secara konsisten dan terstruktur menempa para santrinya dengan jiwa kepemimpinan dan mental pemimpin.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *