SYUKUR & SABAR CIRI KEIMANAN

👁️ 19 kali dibaca

Oleh: Raygal Diyanto Yugantara
Santri KMI Pondok Modern Tazakka

Perlu kita pahami bahwa, salah satu bukti keimanan kita adalah adanya sifat syukur dan sabar dalam diri kita masing-masing. Syukur atas limpahan nikmat dari Yang Maha Kuasa dan selalu bersabar saat kita ditimpa musibah. Hal tersebut sesuai dengan pesan Rasul dalam haditsnya:

“Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya”.

Dari hadits tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa seorang hamba yang sempurna imannya akan selalu bersyukur kepada Allah ketika senang dan bersabar ketika susah, sehingga dia senantiasa ridha kepada Allah dalam segala ketentuan takdir-Nya. Hal itu menjadikan kehidupan seorang mukmin seluruhnya bernilai kebaikan dan pahala di sisi Allah, baik dalam kondisi yang terlihat membuatnya senang ataupun susah.

Dalam Al-Quran, Allah pun memuji secara khusus hamba-hamba-Nya yang memiliki dua sifat ini sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran ketika menyaksikan tanda-tanda kemahakuasaan Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kemahakuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur” (QS Luqmaan: 31)

Sesungguhnya, perintah bersyukur bersifat mutlak, tidak terkait dengan keadaan seseorang. Artinya, saat senang maupun susah; saat lapang maupun sempit; bahkan saat mendapatkan nikmat maupun musibah; hendaknya kita harus selalu bersyukur kepada Allah. Itulah cara pandang yang harus kita bangun sebagai seorang yang beriman terhadap Allah Yang Maha Kuasa. Yaitu selalu bersyukur dalam keadaan apapun.

Maka, jadilah hamba yang selalu bersyukur atas karunia Allah SWT. Sebab, puncak dari segala ibadah yang kita kerjakan adalah syukur. Shalat, puasa, zakat, haji, sedekah dan lain sebagainya semuanya itu dalam rangka bersyukur kepada Allah. Sebab, kalau tidak mau bersyukur itu namanya kufur sama dengan tidak beriman. Dan dengan bersyukur, kita telah meneladani sifat Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW adalah hamba yang paling banyak bersyukur, maka ketika ditanya oleh para sahabat mengapa Rasul masih giat shalat malam yang sunnah padahal dosa-dosanya telah diampuni Allah, Rasul menjawab: “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”

Lalu mengapa orang harus bersabar? Karena dengan bersabar seseorang akan mampu mencapai tujuan hidupnya, yang membutuhkan perjuangan keras baik dalam mencari kebahagiaan dunia maupun akhirat. Sikap sabar juga merupakan gambaran dari sikap tahan banting terhadap tantangan hidup yang semakin hari semakin keras dan sulit, akan tetapi orang yang sabar yakin bahwa dengan sikapnya itu maka setiap langkahnya akan selalu diiringi ridha-Nya.

Demikian pula dalam menghadapi musibah atau bencana seperti kematian, kebakaran, kebanjiran atau yang lainnya, sabar dilakukan agar tidak menghancurkan jiwanya akibat kesedihan, kesusahan dan kekecewaan serta dapat menata kembali hidupnya. Sabar memang mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan, karena sabar hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar khusyuk mendekatkan dirinya kepada Allah.

Sebagai penutup, jangan sampai kita menjadi orang yang munafik, yaitu orang yang setengah bersyukur dan setengah kufur. Pandai-pandailah bersyukur atas nikmat Allah dengan selalu mengucapkan kalimat ‘AlhamdulilLah’. Kita juga harus selalu bersabar dalam menghadapi cobaan dalam kehidupan. Karena Allah telah menjanjikan nikmat yang lebih besar bagi hambanya yang bersyukur, dan Allah selalu bersama dengan orang yang sabar.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *