Oleh: Alam Mahardika
Perlu kita pahami bahwa, salah satu bukti keimanan kita adalah adanya sifat syukur dan sabar dalam diri kita masing-masing. Syukur dan sabar adalah dua pilar utama penyempurna iman dan tanda utama ketakwaan seseorang. Keduanya saling melengkapi laksana dua sisi mata uang: bersyukur saat menerima nikmat dan bersabar saat menghadapi cobaan.
Hal itu sebagaimana sabda Rasul-Nya: โAlangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya ada pada seorang mukmin; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginyaโ.
Terkait perintah bersyukur, Allah mengingatkan hamba-Nya melalui dua surat berikut:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.” (QS Ibrahim: 7)
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS Al-Kautsar: 1-3).
Terkhusus dalam Surat Al Kautsar di atas, Allah memberikan arahan kepada Rasulullah dan tentunya kita sebagai umatnya, untuk selalu mensyukuri nikmat yang banyak itu dengan sholat dan qurban. Yakni shalat yang ikhlas karena Allah dan qurban yang dipersembahkan kepada-Nya semata.
Dan salah satu cara bersyukur adalah dengan menjalankan kewajiban ber-qurban bagi siapa saja yang sedang memiliki kelapangan rizki. Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah bersabda;
ู ููู ููุฌูุฏู ุณูุนูุฉู ููููู ู ููุถูุญูู ูููุงู ูููุฑูุจูููู ู ูุตููุงููููุง
“Barangsiapa yang memiliki kelapangan rezeki tapi tidak mau berqurban, maka jangan dekati tempat sholat kami.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah)
Berkurban atau udzhiyyah di Hari Raya Idul Adha yang sebentar lagi akan kita jumpai adalah salah satu syariat Allah yang patut kita syukuri. Karena berkurban merupakan salah satu sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan cara menginfakkan harta di jalan yang benar.
Ibadah qurban ternyata juga bukan hanya sebagai ritual rutin tiap bulan Dzulhijjah, akan tetapi bagi orang yang beriman memiliki makna yang luar biasa. Selain sebagai sarana taqarrub kepada Allah, berqurban juga merupakan sunah Nabi Ibrahim dan dilanjutkan oleh Nabi Muhammad SAW.
Ingatlah bahwa saat kita berqurban, dan diterima qurban kita oleh Allah, maka bukan hanya dagingnya, melainkan setiap tanduk, kuku, dan bulu hewan yang kita sembelih menjadi pahala yang akan menemani kita pada hari kiamat. Rasulullah bersabda,
“Tidak ada amalan yang dikerjakan anak keturunan Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah Azza Wa Jalla daripada mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk, kuku, dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.โ [HR. Ibnu Majah)
Ingatlah bahwa qurban adalah investasi Akhirat yang luar biasa, sedekah yang utama, atau boleh dibilang ‘sedekah plus-plus’. Bagaimana tidak? setiap bulu dari hewan yang kita qurbankan adalah satu kebaikan, bahkan pahala qurban kita telah sampai terlebih dahulu sebelum darah hewan yang disembelih jatuh ke tanah. Dan perlu dicatat bahwa tidak ada amal yang lebih utama pada hari-hari (tasyriq) ini selain berqurban.
Sekali lagi, qurban adalah tanda takwa, sekaligus cara kita bersyukur atas limpahan nikmat Allah SWT. Setiap satu bulu hewan yang kita qurbankan adalah satu kebaikan. Maka, tidak ada alasan bagi kita yang dilapangkan rizkinya untuk tidak berqurban. Mari kita berqurban untuk investasi akhirat kita.




