Oleh: Fakhrusy Syakirin
Santri KMI Pondok Modern Tazakka
Tripusat pendidikan adalah istilah dalam bidang pendidikan yang berarti memberdayakan sinergitas lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Istilah Tri Pusat Pendidikan dipopulerkan oleh Bapak Pendidikan Nasional, yaitu Ki Hajar Dewantara.
Ketiga lingkungan ini memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing dalam membentuk karakter dan kepribadian anak, dan sinergi antar ketiganya sangat penting untuk mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
Pertama, Keluarga. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Di sini, anak belajar tentang nilai-nilai moral, etika, dan agama, serta mengembangkan kepribadian dan perilaku dasar. Maka, peran orang tua sangat dominan dalam mengembangkan pendidikan bagi anak-anaknya.
Kedua adalah sekolah. Sekolah berperan dalam memberikan pendidikan formal, mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta membentuk karakter siswa agar siap menjadi anggota masyarakat yang produktif. Di sekolah tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga karakter dan budi pekerti oleh para guru.
Ketiga adalah Masyarakat, Masyarakat adalah lingkungan pendidikan non-formal yang luas, di mana anak belajar berinteraksi, bersosialisasi, dan memahami norma-norma sosial. Masyarakat juga memiliki peran dalam memberikan pengalaman belajar yang beragam dan mendukung perkembangan anak, baik dalam aspek ibadah, olahraga, kemasyarakatan, dan komunikasi sosial.
Maka, pendidikan di pesantren sejatinya mengintegrasikan Tripusat Pendidikan yang terpadu. Para santri belajar di pondok dengan kurikulum kehidupan dalam totalitas kehidupan 24 jam di pesantren. Apalagi, pesantren tidak hanya menanamkan aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik. Para santri juga tidak hanya diasah kecerdasan otak dan ketrampilan, tapi juga kekuatan mental dan spiritualnya.
Dalam kehidupan keluarga, para santri dididik dalam asrama yang berdisiplin. Mereka belajar berinteraksi dengan sesama santri yang berasal dari beragam daerah serta latar belakang. Mereka pun berinteraksi dengan para guru secara lebih efektif dan produktif. Para santri juga diberikan beragam kegiatan dan program-program yang berporos pada nilai kemandirian, persaudaraan, kepemimpinan, dan kebersamaan dalam harmoni perbedaan latar belakang suku budaya.
Dalam sistem asrama juga memiliki keistimewaan, karena sistem asrama mengedepankan metode keteladanan dengan menjadikan Kiai sebagai Pengasuh dan juga guru-guru sebagai figur sentral. Keteladanan itu ditularkan dalam sentuhan fisik, pergerakan, pemikiran maupun batiniyah.
Dalam kehidupan sekolah, santri belajar bukan hanya sekedar mencari ilmu, tetapi ilmu itu untuk diamalkan dan sarana beribadah. Pelajaran yang diajarkan juga tidak mengenal dikotomi. Maka, pelajaran agama diajarkan 100% dan pelajaran umum juga diajarkan 100%. Di kelas pun mereka tetap mendapatkan nilai-nilai pendidikan keteladanan dari para guru.
Adapun dalam kehidupan masyarakat, santri diberikan lapangan dan panggung-panggung untuk mengembangkan potensi dirinya. Masjid menjadi laboratorium dalam proses ibadah dan pendidikan. Lapangan menjadi sarana untuk berkompetisi secara sehat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Beragam kegiatan juga dirancang untuk melatih soft skill santri, belajar berorganisasi, belajar kepemimpinan, empati, kerjasama, dan pendidikan lainnya.
Dengan demikian Tripusat Pendidikan di pesantren menjadi sesuatu yang sangat penting karena mampu menghadirkan pendidikan yang holistik. Artinya, Tripusat Pendidikan memastikan pendidikan yang menyeluruh dan seimbang, memperhatikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik anak.
Selain itu, Tripusat Pendidikan juga dilaksanakan sebagai upaya penguatan Karakter. Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat membantu dalam penguatan pendidikan karakter anak, membentuk generasi yang cerdas, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.
Tripusat pendidikan juga mendukung konsep pendidikan sepanjang hayat, di mana pembelajaran tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga dalam keluarga dan masyarakat. Dan di pesantren, semua telah tercipta dalam totalitas kehidupan 24 jam pesantren yang secara optimal akan tercipta lingkungan yang kondusif bagi perkembangan santri secara maksimal.




